Saturday, May 21, 2011

Satu kumpulan makam di Kampung Tok Ku (A group of tombs at Kampung Tok Ku)

Bersambung dari Makam (Tomb of) Tok Ku Long Bahar?.
Continued from Makam (Tomb of) Tok Ku Long Bahar?.



Dalam tanah perkuburan yang sama dengan makam Tok Ku terdapat bangunan ini.
In the same burial ground as the tomb of Tok Ku there lies this building.



Dalamnya terdapat sejumlah makam yang ditanda dengan batu sungai.
Inside it exists a number of tombs marked with river stones.




Saya tak tahu ia makam siapa. Tapi rasanya milik orang penting juga. Maka biar diabadikan di blogspot ini. Mungkin nanti akan ada orang dapat menjawab siapakah yang disemadikan di sini.
I don't know whose tombs these is. But I feel it belongs to important people too. So let it be immortalised in this blogspot. Maybe later there would be people who could answer who is it were laid to rest here.


Makam (Tomb of) Tok Ku Long Bahar?



Kemudian saya teringat sebuah lagi makam yang pernah diziarahi April 2008. Tetapi saya perlu berpatah balik ke arah makam Raja Loyor dan terus lagi ke tempat yang bernama Kampung Tok Ku.
Then I remembered one more tomb which has been visited in April 2008. But I have to turn back towards the tomb of Raja Loyor and furthermore to a place called Kampung (village of) Tok Ku.


Dalam artikel Makam Raja-raja Jembal (Tombs of the kings of Jembal) yang ditulis tahun lepas saya telah menyebut ini sebagai makam of Raja Sakti.
In the article Makam Raja-raja Jembal (Tombs of the kings of Jembal) which was written last year I have mentioned this as the tomb of Raja Sakti.


Kemudian saya terjumpa sebuah buku akademik yang menyebutnya sebagai makam Tok Ku.
Then I came across an academic book which mentioned it as the tomb of Tok Ku.




Buku itu menambah, sesetengah ahli sejarah percaya Tok Ku sebenarnya adalah Tuan Besar Long Bahar ayahanda kepada Sultan Long Sulaiman yang memerintah di Kubang Labu (timur bandaraya Kota Bahru). Untuk pengetahuan Long Sulaiman adalah bapa kepada Long Yunus, orang yang disebut sejarah rasmi sebagai pengasas keSultanan Kelantan moden. Long Yunus menaiki takhta tahun 1760an untuk menerbitkan sultan-sultan Kelantan yang memerintah hingga sekarang.
The book added, some historians believe Tok Ku is actually Tuan Besar Long Bahar father to Sultan Long Sulaiman who ruled at Kubang Labu (east of the city of Kota Bahru). For information Long Sulaiman is father to Long Yunus, the person mentioned in official history as the founder of modern Kelantan sultanate. Long Yunus came up the throne in 1760s to give rise to the sultans of Kelantan who ruled until now.




Long Bahar yang berasal dari Patani pula adalah menantu kepada Raja Udang @ Sultan Omar (disebut sebagai raja terakhir Dinasti Jembal). Long Sulaiman adalah anak dari isteri terdahulu yang dibawa sama dari Patani.
Long Bahar who originated from Patani was in turn the son-in-law of Raja Udang @ Sultan Omar (mentioned as the last king of the Jembal dynasty). Long Sulaiman is a son from an earlier wife brought along from Patani.




Oh. Dalam kawasan makam ini saya dapat melihat batu-batu nesan berlainan yang menandakan kewujudan sekurang-kurangnya dua buah makam. Saya tak tahu yang manakah makam Tok Ku yang dikatakan Long Bahar.
Oh. In this tomb area I could see different tombstones which marked the existence of at least two tombs. I don't know which is the tomb of Tok Ku said to be Long Bahar.


Adapun Long Bahar kemudian diberi kekuasaan untuk memerintah Kelantan dari Kota Jembal. Maka baginda boleh dikatakan titik peralihan pemerintahan dari Dinasti Jembal ke dinasti sekarang.
As it is Long Bahar then was given power to rule Kelantan from Kota Jembal. His majesty could be said to be the turning point of rule from the Jembal dynasty to the present one.



Masjid (Mosque of) Al-Khairat, Kota Jembal

Bersambung dari Makam (Tomb of) Raja Udang?.
Continued from Makam (Tomb of) Raja Udang?




Tidak jauh dari makam tadi, lebih ke tengah pekan Kedai Lalat terdapat masjid ini. Papantanda menyebutnya sebagai Masjid Al-Khairat, Kota Jembal.
Not far from the tomb just now, more towards the centre of the small town of Kedai Lalat lies this mosque. The signage mentioned is as Masjid (mosque of) Al-Khairat, Kota Jembal.


Biar kita lihat dari beberapa sudut.
Let us see it from a number of angles.












Sekarang baru kita masuk.
Now only we enter.










Dewan solat.
Praying hall.



Mimbar dan mihrab.
Front-most section and pulpit.



Agak unik mihrab ini...
Rather unique this pulpit...



Makam (Tomb of) Raja Udang?



Dari makam Raja Loyor saya masuk ke pekan Kedai Lalat. Di hadapan pintu masuk Sekolah Kebangsaan Kota Jembal boleh kelihatan bangunan makam ini.
From the tomb of Raja Loyor I entered the small town of Kedai Lalat. In front of the entrance to Kota Jembal national school could be seen this tomb building.


Penduduk tempatan menyebutnya sebagai makam Raja Udang.
Local citizens mentioned it as the tomb of Raja Udang.


Untuk pengetahuan Raja Udang adalah satu panggilan bagi Sultan Omar, seorang Raja Jembal.
For information Raja Udang is a calling name for Sultan Omar, a king of Jembal.



Memerintah Kelantan 1675-1721 Sultan Omar disebut sebagai raja terakhir dari Dinasti Jembal.
Ruling Kelantan 1675-1721 Sultan Omar is mentioned as the last king from the Jembal dynasty.






Di sebelah makam terdapat sebuah batu hampar yang katanya ada unsur-unsur sakti.
Beside the tomb there is a flat stone said to have magical properties.


Walaupun kebanyakan rujukan yang saya temui menyebut ini memang makam Raja Udang @ Sultan Umar, ada kemungkinan juga ia sebenarnya adalah makam seorang kekanda baginda bernama Raja Bahar, juga dikenali sebagai Raja Ekor. Saya akan kemukakan sebabnya dalam artikel yang akan dibuat kemudian nanti (bukan selepas ini).
Although most references I found say this is indeed the tomb of Raja Udang @ Sultan Umar, there is also a possibility that this is actually the tomb of his elder brother named Raja Bahar, also known as Raja Ekor. I will present the reason in an article to be made later (not after this).



Makam (Tomb of) Raja Loyor

Tahun lepas saya telah membuat satu artikel bertajuk Makam Raja-raja Jembal (Tombs of the kings of Jembal) berdasarkan satu lawatan pusing Kelantan April 2008. Sekarang biarlah makam-makam Raja Jembal ini disentuh satu-persatu berdasarkan perjalanan terbaru yang dibuat penghujung 2010. Kiranya cerita bersambung dari Masjid (Mosque of) Mahmudi, Bachok .
Last year I have made an article titled Makam Raja-raja Jembal (Tombs of the kings of Jembal) based on a round trip of Kelantan April 2008. Now let the tombs of the kings of Jembal be touched one by one based on the latest trip which was made end of 2010. Consider this story continued from Masjid (Mosque of) Mahmudi, Bachok.



Dari Bachok saya meneruskan perjalanan ke utara melalui jalan persisiran pantai yang kemudian membelok barat ke pendalaman memasuki kawasan yang dipanggil Kota Jembal. Sebelum sampai ke pekan Kedai Lalat saya mengambil satu simpang kanan lalu sampai ke makam ini.
From Bachok I continued the journey up north through the coastal road which then turns west getting inland entering an area called Kota Jembal. Before reaching the small town of Kedai Lalat I took a right turn and arrived at this tomb.




Untuk pengetahuan Raja-raja Jembal adalah satu dinasti yang memerintah Kelantan dari Kota Jembal. Makam ini katanya milik Raja Jembal kedua yang dipanggil Raja Loyor.
For information the kings of Jembal a dynasty which ruled Kelantan from Kota Jembal. This tomb is said to belong to the second king of Jembal who is called Raja Loyor.

Raja Loyor dikatakan anak kepada Raja Sakti,pengasas dinasti Raja-raja Jembal.
Raja Loyor is said to be a son of Raja Sakti, founder of the kings of the Jembal dynasty.



Baginda juga dikatakan ayahanda kepada seorang pemerintah perempuan yang sangat terkenal dalam sejarah Kelantan iaitu Puteri Saadong.
His majesty is also said to be father of a female ruler who was famous in the history of Kelantan which is Puteri Saadong.





Friday, May 20, 2011

Masjid (Mosque of) Mahmudi, Bachok

Berbalik pada perjalanan di Pantai Timur penghujung 2010.
Returning to the trip in the East Coast end of 2010.


Perjalanan hari ke-5 membawa kami ke kembali ke negeri Kelantan lalu ke pekan Bachok. Saya pun singgah di masjid ini, Masjid Mahmudi.
The travelling on the 5th day brought us back to the state of Kelantan on to the small town of Bachok. I then stopped at this mosque, Masjid Mahmudi.



Mari lihat ke dalam.
Let us look inside.







Pintu masuk ke dewan solat.
Entrance to the praying hall.



Terlihat pula beduk di satu sudut.
Saw in turn the beduk (Malay traditional drum) at one corner.



Dewan solat.
Praying hall.



Bahagian bawah bumbung tengah.
Section underneath the centre roof.



Mihrab.
Front-most section.


Thursday, May 19, 2011

Batu nesan Melayu di Muzium Negara (Malay gravestones at the National Museum)

Bersambung dari Istana Satu (The 'One Palace').
Continued from Istana Satu (The 'One Palace').



Di sebelah Istana Satu terdapat pula bangunan seperti kandang ini.
Besides the Istana Satu there exists in turn this cage-like building.



Papantanda menyebutnya sebagai tempat 'Nisan Melayu'.
The signage says this is a place for 'Malay grave markers'.






Meneliti lebih dekat saya dapati batu-batu nisan (kadangkala dieja nesan) adalah asli, bukannya replika.
Studying closer I found this grave markers (or gravestones, tombstones with the Malay word nisan sometimes spelt nesan) are original, not replicas.


Batu-batu nesan yang berukir cantik adalah dari jenis yang dipanggil Batu Aceh atau Batu Nesan Aceh. Baca maklumat yang ada. Untuk makluman ini adalah artikel ke 626 di blogspot ini.
The gravestones which are beautifully carved are of the type called Batu Aceh (Acehnese or Aceh stones) or Batu Nesan Aceh (Aceh tombstones). Read the information available. For information this is the 626th article in this blogspot.




Istana Satu (The 'One Palace')

Selingan...
Intermission...



Isnin baru ini saya berjalan-jalan di Muzium Negara, Kuala Lumpur lalu terlihat bangunan kayu ini.
This recent Monday I went around Muzium Negara (the National Museum), Kuala Lumpur and saw this wooden building.


Maklumat yang ada menyebutnya sebagai Istana Satu, sebuah istana yang didirikan di Terengganu tahun 1884 sebelum diangkut ke perkarangan Muzium Negara 1974.
The information available mentioned it as Istana Satu (literally the 'One Palace'), a palace which was built in the year 1884 before it was transported to the lawns of Muzium Negara 1974.


Mari lihat lebih dekat.
Let us have a closer look.












Bahagian tengah kelihatan seperti ruang legar kecil.
The middle section looks like a small lobby.



Ke kanan adalah dapur.
To the right is the kitchen.






Ke kiri adalah bilik tidur. Entah kenapa saya tidak melihat apa-apa dinding yang menutupnya...
To the left is the bedroom. I don't know why I couldn't see any walls covering it...