Thursday, July 02, 2009

Makam (tomb of) Sultan Iskandar Muda?

Betul-betul di hadapan kompleks makam Meuh kelihatan bangunan makam ini...
Right in front of the Meuh tombs complex one could see this tomb building...


Kedudukannya agak terserlah tinggi dan tersendiri...
It's position looks rather outstanding and unique on its own...

Tetapi ada sesuatu yang terasa janggal tentangnya...
But there's something that felt amiss about it...


Tulisan yang ada menyebut inilah makam Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam (memerintah 1607-1636), dianggap raja terunggul dalam sejarah Aceh. Namun auranya dirasakan kurang menyerlah sedangkan makam ini sendiri kelihatan janggal pada saya. Kenapa ini?
The words inscribed said this is the tomb of Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam (ruled 1607-1636), said to be the foremost king in the history of Aceh. But yet its aura felt rather subdued while the tomb itself looks odd to me. Why is this?



Saya melihat batu nesan yang ada dengan lebih dekat dan mula meraba-rabanya. Ah... ini cuma batu nesan replika! Saya tahu bagaimana rasanya batu nesan Aceh sebenar yang selalunya merupakan bongkah batu-batu besar semulajadi yang dipahat begitu indah dan teliti dengan ayat-ayat Al-Quran atau syair-syair Sufi. Sedangkan maaf ya! Batu nesan ini terasa seperti hasil kerja konkrit murahan dengan ayat-ayatnya cuma dicatkan sahaja pada batu. Kenapa ini? Kenapa begini keadaan makam dan batu nesan seorang raja besar, hati saya tertanya-tanya?
I looked at the tombstones more closely and started to rub and feel my way around it. Ah... these are just replicas of tombstones! I know how does a true and genuine Aceh tombstone feels like as it is usually a chunk of natural rock scuplted and engraved beautifully to detail with Quranic verses or Sufi poems. While sorry ya! These tombstones felt like cheap concrete or cement works with the verses on it simply painted to the concrete slabs. Why is this? Why is the tomb and tombstones of a major king made this way, my heart kept on asking?




Batu maklumatnya juga pudar. Apa ini? Kemudian baru saya mendengar cerita bahawa makam asal Sultan Iskandar Muda di sini telah dibongkar oleh musuh-musuh orang Aceh, pihak penjajah Belanda. Lalu katanya tulang-temulang baginda telah dibuang ke laut bersama batu nesan asalnya!
The stone slab with its information is also not clear. What is this? Then later I heard the story that the original tomb of Sultan Iskandar Muda here was digged out by the enemies of the Aceh people, the colonialists Dutch. And so it is said that his majesty's bones and such were thrown out into the sea.
Mungkin ini benar dan sangat logik. Tetapi saya percaya seorang raja besar seperti Sultan Iskandar Muda yang gigih berjuang untuk memartabatkan Islam seraya menghalang segala usaha penjajah Barat mengkafirkan penduduk alam Melayu, seorang manusia yang pada saya bertaraf wali tidak akan dibuat sebegitu rupa kerana ada lindungan Allah untuknya. Seharusnya seperti kisah makam Habib Nuh di Singapura dan banyak makam para wali, ia tidak boleh dibongkar atau dialih oleh sesiapa pun. Malah untuk dikacau orang pun tidak boleh kerana akan terjadi halangan tidak disangka termasuk dalam bentuk ghaib yang akan menggagalkan segala usaha yang nyata tidak menghormati peribadi besar yang terkubur dalam sesuatu makam.
Maybe this is true and very logical. But I do believe that a major king like Sultan Iskandar Muda who tirelessly fought to bring dignity to Islam while blocking all efforts by the Western colonialists to turn the inhabitants of the Malay world into infidels, a man whom to me is of saintly status would not be treated this way as there is Allah's protection for him. It should be as in the case of the tomb of Habib Nuh in Singapura and many tombs of saints, that it could never be digged out nor removed by anyone. In fact it cannot be disturbed as there would be unexpected obstacles including in the form of supernatural occurences which would foil any sort of attempt which is clearly shown to be disrespect for the big personality which lies inside a certain tomb.
Kecuali ini bukan makam sebenar Sultan Iskandar Muda... yang baginda sebenarnya tidak pernah dimakamkan di sini sebaliknya yang ditanam adalah orang lain? Dengan itu saya tamatkan siri penceritaan malam ini. Untuk makluman ini adalah artikel ke 249 di blogspot ini. Untuk mendapat maklumat lagi berkenaan perkara yang telah diutarakan dalam beberapa artikel kebelakangan ini, pembaca boleh melihat website http://www.virtualaceh.com/aceh_museum.php. Sekian, selamat malam! :]
Except this is not the real tomb of Sultan Iskandar Muda... that is his majesty was never buried here in the first place but actually the remains of another man was put here in place? With that I end the series of story-telling made for tonight. For information this is the 249th article in this blogspot. For more information regarding the materials presented in the last few articles here, readers can look at the website http://www.virtualaceh.com/aceh_museum.php. That's it, good night! :]





Kompleks makam Meuh (Meuh tombs complex)

Di sebelah kompleks Muzium Aceh, terdapat pula kompleks makam Sultan Iskandar Muda.
Besides the Aceh museum complex, there lies in turn the Sultan Iskandar Muda complex.



Masuk ke dalam dan anda akan melihat kompleks makam Meuh...

Go inside and you would see the Meuh tombs complex...


Saya tidak berapa tahu makam-makam siapakah ini...
I do not exactly know whose tombs are these...

Tetapi dari sedikit nama yang tertera, saya tahu ini juga makam raja-raja/kerabat diraja dari Dinasti Bugis. Lihat artikel Makam Raja-raja Dinasti Bugis (the tomb of kings from the Bugis dynasty) ...
But from the names shown here, I know it is also the tombs of kings/royalties from the Bugis dynasty. Look at the article Makam Raja-raja Dinasti Bugis (the tomb of kings from the Bugis dynasty) ...

Makam Raja-raja Dinasti Bugis (the tomb of kings from the Bugis dynasty)



Turut terdapat di halaman Muzium Aceh adalah batu nesan Aceh ini, mungkin sebuah replika...

Also available at the courtyard of the Aceh museum is this Aceh gravestone, probably a replica...

Rupa-rupanya tidak jauh dari situ memang terdapat sebuah kawasan pemakaman diraja!
As it turned out not far from it there actually exist a royal mausoleum complex!

Yang menarik, ada disebut bahawa ia adalah makam raja-raja Dinasti Bugis.
What is interesting, it is said that these are the tombs of kings from the Bugis dynasty.


Mengikut sejarah rasmi Aceh, wilayah ini diperintah raja-raja berketurunan Bugis sejak tahun 1727. Mereka adalah keturunan seorang bangsawan Bugis bernama Daeng Mansur. Di bawah adalah makam raja-raja/kerabat diraja Bugis ini mengikut turutan yang tertera pada papan tanda atas...
According to the official history of Aceh, the region or province was ruled by kings from Bugis descent since 1727. They are descendants of a Bugis noble named Daeng Mansur. Below are the tombs of the Bugis kings/royalty according to the order as highlighted on the information board above...























Rumah tradisional Aceh (Aceh traditional house)


Di halaman Muzium Aceh juga terdapat sebuah rumah tradisonal Aceh...

At the courtyard of the Aceh musium also lies an Aceh traditional house...

Cukuplah sedikit gambar ini tanpa penerangan lanjut ya...
Enough with these few pictures without further explanation ya...






Muzium (Museum of) Aceh dan loceng (and the bell of) Cakra Donya

Bangunan di atas dan di bawah ini adalah sebahagian dari kompleks Muzium Aceh di Banda Aceh.
The building above and below are part of the Aceh museum complex in Banda Aceh.




Tetapi saya lebih tertarik pada bangunan kecil di perkarangan muzium ini...
But I was more attracted to this small building at the courtyard of the museum...


Di dalamnya tergantung sebuah loceng besar berusia lebih 600 tahun!
Inside it hangs a huge bell which is more than 600 years old!



Baca sejarahnya di sini. Baru saya tahu bahawa ia pernah digantung di hadapan Masjid Baiturrahim sebelum tahun 1915... bermakna masjid asalnya lebih tua dari tarikh 1343 Hijrah bersamaan 1924 Masihi yang saya lihat tertera pada masjid kini. Lihat artikel Masjid (mosque of) Baiturrahim, Aceh .
Read the history here. Now only do I know that it was once hanged in front of the Baiturrahim mosque before the year 1915... meaning that the originial mosque is older than the date 1343 Hijriah equivalent to 1924 AD which I saw featured at the current mosque. Look at the article Masjid (mosque of) Baiturrahim, Aceh .


Lihat rantai ini...
Look at this chains...





Dengan rantai inilah loceng itu digantung di hadapan Masjid Baiturrahim.
It is with these chains that the bell was hanged up in front of the Baiturrahim mosque.


Masjid (mosque of) Baiturrahim, Aceh

Ini adalah Masjid Baiturrahim yang terletak di Uleelheue, pinggir Banda Aceh.
This is the mosque of Baiturrahim which is situated at Uleelheue, at the outskirts of Banda Aceh.


Selepas Masjid Baiturrahman (lihat artikel Masjid Raya (Main mosque of) Baiturrahman, Aceh ) di tengah bandaraya, ia boleh dikatakan masjid kedua di Aceh paling terkenal yang selamat walaupun dilanda Tsunami 26 Disember 2004.
After the mosque of Baiturrahman (look at the article Masjid Raya (Main mosque of) Baiturrahman, Aceh ) in the city centre, this could be said to be the second most famous mosque in Aceh which managed to survive the onslaught of Tsunami 26 December 2004.


Masjid ini terletak berdekatan laut. Orang di sini menceritakan bahawa ombak Tsunami melanda pada paras tertinggi bangunan ini. Untuk pengetahuan ketinggian ombak yang melanda tidak sama bagi semua tempat. Ada yang dikatakan setinggi pohon kelapa malah lebih tinggi lagi, namun yang paling rendah pun melepasi 2 meter!
This mosque is situated close to the sea. The people here related that the tidal wave of Tsunami reached the highest part of this building. For information the height of the waves were not the same for all places. There were those which is said to rise above coconut trees and even higher, but still the lowest went pass 2 metres!


Kalau tak salah, catatan di sini menyebut masjid ini dibina tahun 1343 Hijrah atau sekitar 1924 Masihi gitu...
If I'm not mistaken, the inscription here says the mosque was built in the year 1343 Hijriah which should be equivalent to around 1924 or so...



Kalau tak salah ingatan, menara azannya pula dibina selepas Tsunami.
If I remember correctly, its call-to-prayer tower was in turn built after the Tsunami.




Selepas Tsunami ia telah dibaik-pulih hingga jadi rupa yang kelihatan kini. Namun hakikat yang ia masih dapat bertahan dan mengalami cuma sedikit kerosakan yang lebih berbentuk kosmetik sudah cukup menakjubkan, di kala kawasan sekelilingnya jadi seperti padang jarak padang tekukur dilanggar ombak ganas.
After the Tsunami it was renovated until it got the appearance as could be seen today. Still the fact that it managed to stand tall and only suffered minor damages which were more cosmetic in nature remains as something amazing, at a time when the surroundings became like a huge open lifeless field hit by the vicious waves.



Sekarang mari lihat dalamnya...
Now let us see its inside...




Mimbar...
The pulpit...




Kawasan solat perempuan...
The women's praying section...



Di kanan hadapan luar masjid pula kelihatan batu nesan yang terserlah besar ini, saya tak tahu milik siapa...
On the right front outside the mosque is seen this tombstone which stands out large, I don't know to whom it belongs...

Gunongan...

Ini adalah sebuah monumen lama Aceh yang dikenali sebagai Gunongan...
This is an old Aceh monument known as the Gunongan...


Ia adalah sebahagian dari sebuah taman yang dibina untuk seorang puteri dari Pahang yang menjadi isteri kepada Sultan Iskandar Muda (memerintah Aceh 1607-1636), puteri yang dikenali di Aceh sebagai Putro Phang.

It is part of a garden built for a princess from Pahang who became the wife to Sultan Iskandar Muda (ruled Aceh 1607-1636), a princess who is known in Aceh as Putro Phang.


Pintu masuknya...
The entrance...


Sebelum itu lihat binaan ini yang dahulunya lebih lengkap siap dengan pancuran air. Inilah tempat Putro Phang bersiram bersama dayang-dayang sebelum bermain-main seraya berjemur di Gunongan!
Before that let's have a look at this building which in old times was complete with a water fountain. This is the place where Putro Phang used to enjoy a wash or take bath with her maids before going out to play while lying out in the sun at Gunongan!



OK. Sekarang baru kita masuk...
OK. Now only do we go in...




Kena masuk bahagian seperti terowong ini...
Have to enter this tunnel-like part...





Kemudian naik tangga untuk keluar...
Then climb up this staircase to go out...






Keluar dari lubang ini...
Out from this hole...





Lalu naik lagi ke atas...
Then climb on further upstairs...





Boleh kelihatan binaan yang pernah menjadi tempat mandi putri...
One could see the building which used to be the place for the princess to wash...






Kelihatan juga sebuah sungai yang dahulunya dihias begitu indah sebagai sebahagian dari taman istana...
One could also see the river which in old times was beautifully decorated as part of the palace garden...




Di belakang pula kelihatan 'Kandang', sebuah binaan batu yang mengandungi makam Sultan Iskandar Thani (memerintah Aceh 1636-1641), seorang putera Pahang yang dijadikan anak angkat Sultan Iskandar Muda kemudian menantu kemudian penggantinya!
At the back or rear one could see a 'Kandang', a type of stone building containing the tomb of Sultan Iskandar Thani (ruled Aceh 1636-1641), a prince of Pahang who was made the adopted son of Sultan Iskandar Muda then his son-in-law then his successor!



Ini pula puncak Gunongan. Seronok panjat sampai ke atas!
This is the peak of Gunongan. It's fun climbing all the way to the top!